Air terus mengalir tiada kata lelah, menggambarkan tiupan angin yang membawa dedaunan layu berguguran. Sulit bibir untuk mengungkapkan semua yang terjadi saat ini. Seakan batu yang akan berlubang dalam waktu tidak sebentar oleh tetesan air hujan. Tidak sedikit air yang menghiasi sekitaran wajah lembut ini. Juga tidak sedikit senyuman yang telah terekam memori otak. Sejuknya embun pagi menemani nyanyian burung berjuta teman yang membagikan kisah antar sesamanya. Semua masih cerah saat itu, tak terlihat hujan akan datang dari kumpulan awan diatas. Sebuah perjalan panjang telah menghantarkan seseorang pada kerumunan itu. Mengamati dengan tenang setiap nyanyian itu dan mengambil sebuah kesimpulan untuk dirinya sendiri.
Bukanlah mudah untuk dapat keluar dari tengahnya rimbunan pepohonan diatas tanah Borneo. Tak juga cukup dengan perjalanan 24jam apalagi hanya terdiam menanti sebuah keajaiban datang dari Sang Pencipta untuk mengirimkan sesosok insan yang dapat membantu keluar darinya. Saat melihat sebuah perahu kertas yang mengalir dari hanyutan air diantara itu seakan semua akan berakhir. Sebuah keyakinan yang telah terlihat dan tertanam membuat semangat yang kian pasti. Harus berapa jauh lagi untuk melangkah agar dapat sampai kepada sang pembuat keyakinan itu?
Musim kemarau yang lalu memberikan banyak hiasan diwajah sebelum pada akhirnya kembali lagi dimusim penghujan pada Desember. Bukan untuk menceritakan sebuah penjeritan dan kesakitan yang dirasakan, bukan untuk menggambarkan indahnya pengunungan ditengah kekeringan. Bukan pula untuk memberikan sebuah keyakinan ditengah pengharapan. Lalu lalang debu yang tertibu akan mengerti apa yang seharus terjadi walau diam dalam keramaian. Diantar pesta perayaan sesama semut membuat suasana hening bagi yang tidak mengerti. Bagimana mungkin suatu yang mati bisa bergerak lagi ? Jepretan dari benda kotak bermatakan lensa saja yang dapat dijadikan sebuah ingatan kuat kedepannya untuk dikenang. Bagaimanapun kaca yang telah pecah ketika disatukan kembali akan tetap menyisakan bekas retak. Hanya dengan menggantikan kaca yang baru semua itu akan terlupakan meskin akan terlihat berbeda dari yang sebelumnya.
Sebuah alunan lembut dari sang pianis membuat suasana tambah mencengkram. Bagaimana tidak, sebelum semuanya terjadi alunan itulah yang selalu menemani gelap malam, penekanan setiap tangga nada itu seakan gambaran yang terjadi saat ini. Kumpulan nada itu pula yang selalu menenangkan kala itu. "Mendung tak selalu akan hujan" pemikiran itulah yang tertanam, namun mendung yang terlihat ini memang benar meneteskan air langit. Bukan mudah untuk melupakan setiap nada yang telah terekam kuat diotak ini. Bukanlah mudah pula untuk menggantikan dengan kumpulan nada baru yang akan jauh lebih indah lagi. Banyak tetesan langit yang membasahi tanah kering dan pada akhirnya menyebabkan banjir.
Tak akan mungkin bisa putih tak ternodai hitam walau hanya setitik.Tak ada yang bisa menebak kapan dia akan kembali keasalnya. Begitu pula dengan indahnya cahaya lilin yang akan semakin cepat terhenti oleh tiupan angin. Sekencangnya tiupan angin membawakan dedaunan kering itu akan terhenti disaat semuanya telah berlalu. Walaupun ingin tapi itu bagaikan menanmkan sebatang pohon ditengah-tengah lautan yang tak seorang pun tau dimana tepat letak pertengah itu.
Bukanlah mudah untuk dapat keluar dari tengahnya rimbunan pepohonan diatas tanah Borneo. Tak juga cukup dengan perjalanan 24jam apalagi hanya terdiam menanti sebuah keajaiban datang dari Sang Pencipta untuk mengirimkan sesosok insan yang dapat membantu keluar darinya. Saat melihat sebuah perahu kertas yang mengalir dari hanyutan air diantara itu seakan semua akan berakhir. Sebuah keyakinan yang telah terlihat dan tertanam membuat semangat yang kian pasti. Harus berapa jauh lagi untuk melangkah agar dapat sampai kepada sang pembuat keyakinan itu?
Musim kemarau yang lalu memberikan banyak hiasan diwajah sebelum pada akhirnya kembali lagi dimusim penghujan pada Desember. Bukan untuk menceritakan sebuah penjeritan dan kesakitan yang dirasakan, bukan untuk menggambarkan indahnya pengunungan ditengah kekeringan. Bukan pula untuk memberikan sebuah keyakinan ditengah pengharapan. Lalu lalang debu yang tertibu akan mengerti apa yang seharus terjadi walau diam dalam keramaian. Diantar pesta perayaan sesama semut membuat suasana hening bagi yang tidak mengerti. Bagimana mungkin suatu yang mati bisa bergerak lagi ? Jepretan dari benda kotak bermatakan lensa saja yang dapat dijadikan sebuah ingatan kuat kedepannya untuk dikenang. Bagaimanapun kaca yang telah pecah ketika disatukan kembali akan tetap menyisakan bekas retak. Hanya dengan menggantikan kaca yang baru semua itu akan terlupakan meskin akan terlihat berbeda dari yang sebelumnya.
Sebuah alunan lembut dari sang pianis membuat suasana tambah mencengkram. Bagaimana tidak, sebelum semuanya terjadi alunan itulah yang selalu menemani gelap malam, penekanan setiap tangga nada itu seakan gambaran yang terjadi saat ini. Kumpulan nada itu pula yang selalu menenangkan kala itu. "Mendung tak selalu akan hujan" pemikiran itulah yang tertanam, namun mendung yang terlihat ini memang benar meneteskan air langit. Bukan mudah untuk melupakan setiap nada yang telah terekam kuat diotak ini. Bukanlah mudah pula untuk menggantikan dengan kumpulan nada baru yang akan jauh lebih indah lagi. Banyak tetesan langit yang membasahi tanah kering dan pada akhirnya menyebabkan banjir.
Tak akan mungkin bisa putih tak ternodai hitam walau hanya setitik.Tak ada yang bisa menebak kapan dia akan kembali keasalnya. Begitu pula dengan indahnya cahaya lilin yang akan semakin cepat terhenti oleh tiupan angin. Sekencangnya tiupan angin membawakan dedaunan kering itu akan terhenti disaat semuanya telah berlalu. Walaupun ingin tapi itu bagaikan menanmkan sebatang pohon ditengah-tengah lautan yang tak seorang pun tau dimana tepat letak pertengah itu.

0 komentar to Semua Yang Berlalu :
Posting Komentar